Minggu, 15 Juli 2012

Makalah Kebudayaan Suku Dayak Indramayu

 BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah

Negara Indonesia adalah Negara yang kaya akan berbagai macam kebudayaan dan suku bangsa. Hal ini merupakan suatu kelebihan yang dimiliki, dan merupakan ciri khas yang membedakan dengan Negara lain. Kebudayaan Bangsa Indonesia telah ada dan berkembang sejak zaman dulu kala. Hal ini dapat dilihat langsung dari hasil karya nenek moyang Bangsa Indonesia yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Oleh sebab itu, sebagai masyarakat Indonesia dan generasi penerus bangsa harus mampu melestarikan kebudayaan ini.

Salah satu suku bangsa yang terdapat di Indonesia yakni Suku Dayak Indramayu. Meski memakai nama dan berpenampilan mirip Dayak, namun mereka sama sekali tak memiliki hubungan dengan suku Dayak di Kalimantan sana. Bahkan seluruh anggotanya yang lebih dari 400 jiwa ini adalah suku Jawa yang bermukim di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.












BAB II
LANDASAN TEORI

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
2.1 Definisi Budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" d Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
2.2 Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan
2.3 Unsur-Unsur Kebudayaan
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
  1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
    • alat-alat teknologi
    • sistem ekonomi
    • keluarga
    • kekuasaan politik
  2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
    • sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
    • organisasi ekonomi
    • alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
    • organisasi kekuatan (politik)
3.      Tujuh unsur kebudayaan sebagai cultural universal:
o   Peralatan dan perlengkapan hidup manusia
o   Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi
o    Sistem kemasyarakatan
o   Bahasa
o   Kesenian
o   Sistem Pengetahuan
o   Religi (sistem kepercayaan)

2.4 Wujud dan komponen Kebudayaan
Wujud
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
  • Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
  • Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
  • Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
Komponen
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:
  • Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
  • Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

2.5 Sifat Hakikat Kebudayaan
1.      Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia.
2.      Kebudayaan telah ada lebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
3.      Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya.
4.      kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang diizinkan.





























BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Lokasi Suku Dayak Indramayu
http://3.bp.blogspot.com/_5LyGGxbMRck/SmLmCiqktOI/AAAAAAAAAD8/1ovJPl0OalY/s200/KOMPLEKS+BUMI+SEGANDU-2.jpg            Nama lengkap komunitas ini adalah Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu. Masyarakat luas mengenalnya dengan nama Suku Dayak Indramayu. Meski memakai nama dan berpenampilan mirip Dayak, namun mereka sama sekali tak memiliki hubungan dengan suku Dayak di Kalimantan sana. Bahkan seluruh anggotanya yang lebih dari 400 jiwa ini adalah suku Jawa yang bermukim di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.

3.2  Asal Usul Penamaan Suku Dayak Hindu – Budha Bumi Segandu
Komunitas ini menamakan dirinya dengan sebutan “Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu”. Menurut penjelasan warga komunitas ini, penamaan Suku Dayak ini mengandung makna sebagai berikut:
1.      Kata “suku” artinya kaki, yang mengandung makna bahwa setiap manusia berjalan dan berdiri di atas kaki masing-masing untuk mencapai tujuan sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya masing-masing.
2.      Kata “Dayak” berasal dari kata “ayak” atau “ngayak” yang artinya memilih atau menyaring. Makna kata “dayak” di sini adalah memilih mana yang benar dan mana yang salah. Kata “Hindu” artinya kandungan atau rahim.
3.      Sedangkan kata “Budha”, asal dari kata “wuda”, yang artinya telanjang. Makna filosofisnya adalah bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang. Selanjutnya adalah makna wujud, sedangkan “segandu” bermakna sekujur badan. Gabungan kedua kata ini, yakni “Bumi Segandu” mengandung makna filosofis sebagai kekuatan hidup. Adapun kata “Indramayu”, mengandung pengertian : “In” maknanya adalah ‘inti’; “Darma” artinya orang tua, dan kata “Ayu”, maknanya perempuan. Makna filosofisnya  karena dari rahimnyalah kita semua dilahirkan. Itu sebabnya mmenghormati kaum perempuan, yang termereka sehari-hari. Jadi penyebutan kata “suku” pada komunitas ini bukan dalam konteks terminologi suku bangsa (etnik) dalam pengertian antropologis, melainkan penyebutan istilah yang diambil dari makna kata-kata dalam bahasa daerah (Jawa). Demikian pula dengan kata “dayak”, bukan dalam pengertian sukubangsa (etnik) Dayak yang berada di daerah Kalimantan, kendati pun dari sisi performan ada kesamaan, yakni mereka sangat mengenakan baju, serta mengenakan asesoris berupa kalung dan gelang (tangan dan kaki).
4.      Lebih jauh, pemimpin komunitas ini menjelaskan tentang pemakaian kata “Hindu – Budha” pada sebutan komunitas ini. Kendatipun komunitas ini menggunakan kata “Hindu – Budha”, bukan berarti bahwa mereka adalah penganut agama Hindu ataupun Budha. Penggunaan kata “Hindu”, karena komunitas ini meneladani peri kehidupan kelima tokoh Pandawa, yang dipandang sebagai seorang mahaguru yang sangat bijaksana. Adapun penyebutan kata “Budha” karena mereka mengambil inti ajaran “aji rasa” (tepuk seliro) dan kesahajaan yang merupakan inti ajaran agama Budha.

3.3  Asal-Usul Kelompok
Asal mula kelompok Suku Dayak Indramayu ini terkait erat dengan perjalanan hidup pendirinya, yaitu Takmad Diningrat, yang oleh para pengikutnya disebut dengan panggilan Pak Tua.  Pemimpin mereka adalah Ki Takmad. Didalam komunitas Suku Dayak Indramayu, nama lengkap lelaki berusia 70 tahun ini adalah Paheran Takmad Diningrat Gusti Alam. Sepintas lalu, penampilan Ki Takmad dan para pengikutnya bisa aneh dan berkesan menakutkan. Namun ketika sudah terlibat kontak dengan mereka, maka kesan akrab akan didapat.
Spiritualitas Ki Takmad seperti sinkritisme Hindu, Budha, Jawa Kuno, Islam dan hasil kontempelasi pemikiran orisinilnya, mirip kaum Pagan (penyembah benda-benda). Komunitas ini menempatkan kaum perempuan pada posisi yang sangat terhormat, sekaligus sebagai sumber inspirasi. “Nyi Dewi Ratu", demikian sebutan personifikasi kekuatan untuk yang maha pemberi hidup atau sumber kehidupan. Bahkan pintu bangunan pendopo komunitas ini, berreliefkan Nyi Dewi Ratu Kembar.
Dalam sistem sosial dan budaya yang dibangun di lingkungan dayak "Bumi Segandu", posisi dan derajat wanita memang sangat ditinggikan. Karena itu, sekalipun Takmad disegani, dia akan takluk bila berhadapan dengan istrinya.Berkhianat atau berbohong pada istri (wanita) adalah sebuah dosa besar yang tak terampuni. Karena itu pula, bila ada konsep "tuhan" dalam komunitas "Bumi Segandu", manifestasinya ada pada sosok wanita yang disebutnya sebagai "Nyi Dewi Ratu".
Nyi Dewi Ratu itu menguasai sukma bumi atau hukum-hukum kebenaran yang dibahasakan dengan istilah "sejarah alam". Dia harus dipuja dan ditinggikan lewat "ngajirasa" dan "ngadirasa" (laku atau amal-amalan). Dalam keseharian, pemujaan terhadap Nyi Dewi Ratu dipraktekan dalam bentuk kesetiaan terhadap istri.
Ajarannya Takmad tampaknya banyak dipengaruhi konsep kejawen (Hindu-Jawa). Sebagaimana kita tahu, pada pemahaman masyarakat kejawen Pulau Jawa itu dikuasai oleh Dewi-dewi, itu pula kenapa semua penguasa alam di Jawa selalu disimbolkan dengan wanita seperti Nyi Roro Kidul (Penguasa Laut Kidul), Nyi Blorong (Penguasa Gunung Bromo), Dewi Sri (Dewi Padi) dan lain-lain.
Karena konsep itulah, pada Pemilu 1999 Takmad memobilisasi pengikutnya untuk mendukung PDIP. Selain itu, pada Pemilu 1999, ketika dirinya bermeditasi, memperoleh bisikan ghaib dari Nyi Dewi Ratu kalau "Bumi Segandu" harus memilih partai yang dipimpin perempuan. Namun pada Pemilu 2004, komunitas Suku Dayak Indramayu menyatakan untuk tidak ikut
Ia adalah asli orang Indramayu yang berasal dari sebuah desa yang bernama Desa Segandu. Menurut penuturannya, Ia adalah seorang yatim dalam kandungan, yaitu ayahnya meninggal ketika ia sedang dikandung oleh ibunya dalam usia kandungan 3 bulan. Ia pun selama ini hidup dan tidak mampu untuk mengikuti pendidikan formal. Ia pun tidak pernah mengaji (belajar ilmu agama) seperti anak lain seusianya, karena terbentur masalah biaya. Itu pula sebabnya, hingga sekarang ia tidak bisa membaca dan menulis. Ia pun tidak begitu fasih berbahasa dan ia pun memutuskan untuk mencari ilmu sendiri. Menginjak remaja, Takmad bekerja sebagai kuli pelabuhan yang berpindah-pindah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Di beberapa tempat yang disinggahinya, dia belajar ilmu beladiri (silat). Salah seorang guru silat yang diseganinya adalah Midun (orang Aceh).
Ketika ia kembali ke daerah asalnya di Desa Segandu, ia menyunting seorang gadis dari desa itu dan kemudian memperistrinya. Dari hasil perkawinannya itu, mereka mempunyai 11 orang anak, terdiri atas 3 anak wanita, dan 8 anak pria. Dari kesebelas orang anaknya, 6 di antaranya telah meninggal akibat hidup bersama isteri dan 5 orang anak. Di desa tempat kelahirannya, ia pun kemudian mengembangkan ilmu yang dimilikinya, baik ilmu kebathinan maupun ilmu kanuragan. Semula hanya istri dan anak-anaknya saja yang menjadi pengikutnya, akan tetapi kemudian ada juga beberapa warga masyarakat terdekat yang menjadi anggota perguruannya. Tahu dengan nama Silat Serbaguna. Pada tahun 1976 berganti nama menjadi Jaka Utama. Beberapa tahun kemudian, perguruan ini mulai ditinggalkan murid-muridnya karena beberapa hal, antara lain ingin mendalami ilmu di lain tempat. Takmad sendiri tidak pernah mengikat dan memaksa murid-muridnya untuk selalu mengikuti ajaran-ajarannya. Setelah ditinggalkan murid-muridnya, Takmad, memperdalam ilmunya, khususnya ilmu kebathinannya dengan berguru pada alam, Setelah sekian lama memperdalam ilmu kebathinannya, ia pun merasa mendapat pemurnian diri. Dari hasil pengkajian ilmu kebathinannya ini, akhirnya  saran” yang ia yakini bersumber dari “Nur Alam” (cahaya alam), yaitu bumi dan langit. Bumi dan langit ini kemudian diungkapkan dalam bentuk simbol warna hitam dan putih pada celana kutung yang dipergunakan dalam keseharian dan menjadi identitas mereka sedangkan
Pada tahun 1990-an, Takmad mendirikan Padepokan Nyi Ratu  rimun Kec. Losarang Kab. Indramayu. Sejak itu, pengikutnya semakin banyak. Adapun tanah yang kini menjadi padepokan kelompok ini adalah warisan dari mertua pak Takmad.


3.4  Pola Perkampungan di Suku Dayak Indramayu
Suku Dayak Indramayu” hidup di tengah-tengah masyarakat sekitarnya, akan tetapi dalam beberapa hal, mereka mengisolasikan diri dari lingkungan masyarakatnya. Misalnya, untuk tempat tinggal dan tempat peribadatan (ritual) mereka, dibentengi dengan dinding yang cukup tinggi dan diberi ornamen lukisan-lukisan. Di dalam benteng ini terdapat beberapa bangunan yang terdiri atas: rumah pemimpin suku, pendopo, pesarean, pesanggrahan, dan sebuah bangunan rumah tinggal salah seorang pemimpin suku.
Beberapa bangunan, yaitu rumah pemimpin suku dan pesarean sudah merupakan bangunan permanen, berdinding tembok, berlantai keramik, dan beratap genteng. Gedung pendopo berdinding semi permanen, yaitu dinding bagian bawah berupa tembok dan duduk jendela/setengah badan ke atas menggunakan papan yang dilapisi bilik, berlantai keramik, dan beratap genting. Sementara itu, bangunan pesanggaran adalah bangunan non-permanen, berlantai tanah, beratap sirap, dan dindingnya dibuat dari papan dan bilik.

3.5 Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan suku dayak adalah bilateral/ambilineal, yaitu menarik garis keturunan dari pihak ayah dan ibu. Sehingga system pewarisan tidak membedakan anak laki-laki dan perempuan.

3.6 Sistem Kepercayaan
Sistem kepercayaan suku dayak indramayu ialah menganut animisme.
Ajaran dari kelompok “Dayak Indramayu” dinamakan dengan sebutan Sajarah Alam Ngaji Rasa. Menurut penjelasan salah seorang pengikut senior dari Pak Takmad, “sajarah” adalah perjalanan hidup (awal, tengah, dan akhir) berdasarkan ucapan dan kenyataan. Sementara itu, “alam” adalah sebagai ruang lingkup kehidupan atau sebagai wadah kehidupan. Adapun “ngaji rasa” adalah tatacara atau pola hidup manusia yang didasari dengan adanya rasa yang sepuas mungkin harus dikaji melalui kajian antara salah dan benar, dan dikaji berdasarkan ucapan dan kenyataan yang sepuas mungkin harus bisa menyatu dan manusiawi, tanpa memandang ciri hidup, karena pandangan salah belum tentu salahnya, pandangan benar belum tentu benarnya. “Oleh karena itu, kami sedang belajar ngaji rasa dengan prinsip-prinsip jangan dulu mempelajari orang lain, tapi pelajarilah diri sendiri antara salah dengan benarnya dengan proses uji ada anak dan istri”, ungkapnya. Konsep-konsep ajaran ini tidak didasarkan pada kitab suci, aliran kepercayaan, agama, maupun akar budaya tertentu.
Mereka yang dianggapnya sangat bertanggungjawab terhadap keluarga. harus dijalani dengan menjauhkan diri dari keramaian dunia yang mengejar kesenangan duniawi. Tahap-tahap tersebut adalah : wedi ��sabar ��ngadirasa (ngajirasa) ��memahami benar-salah Pada awalnya, setiap manusia wedi – wedian (takut, penakut) baik terhadap alam maupun lingkungan masyarakatnya.
Oleh karena itu, manusia harus mengembangkan perasaan sabar dan sumerah diri dalam arti berusaha selaras dengan alam tanpa merusak alam. Prinsipnya adalah jangan merusak alam apabila tidak ingin terkena murka alam. Itulah yang disebut ngaji rasa atau ngadirasa. Setelah bersatu dan selaras dengan alam, dalam arti mengenal sifat-sifat alam sehingga bisa hidup dengan tenteram dan tenang karena mendapat lindungan dari manusia akan memahami benar-salah dan selanjutnya dengan mudah akan mencapai pemurnian diri; manusia tidak lagi memiliki kehendak duniawi. Cerminan dari manusia yang telah mencapai pemurnian diri, yaitu manusia yang telah memahami benar-salah, tampak dalam kehidupan sehari-harinya. Manusia yang telah mencapai tahap tersebut, akan selalu jujur dan bertanggungjawab.  Ngajirasa, ajaran yang diakui sebagai jalan menuju pemurnian diri, mendidik setiap pengikutnya untuk mengendalikan diri dari “TIGA TA” (harta, tahu wanita). Bagi para pengikut yang telah menikah, suami harus sepenuhnya mengabdikan diri pada keluarga. Suami tidak boleh menghardik, memarahi, atau berlaku kasar terhadap anak dan isterinya. Oleh karena itu, perceraian merupakan sesuatu yang dianggap pantang terjadi. Demikian juga, hubungan di luar pernikahan sangat ditentang. “Jangan coba-coba berzinah apabila tidak ingin terkena kutuk sang guru,” demikian salah seorang pengikut Pak Takmad mengungkapkan. Ngajirasa juga mengajarkan untuk saling mengasihi kepada sesama umat manusia. Misalnya, menolong orang yang sedang kesulitan walaupun berbeda kepercayaan, tidak menagih utang kepada orang yang membiarkan orang yang berutang tersebut untuk membayar atas kesadarannya sendiri.
Demikian juga dalam hal mendidik anak, sebaiknya tidak terlalu banyak mengatur karena yang bisa mengubah sikap dan perilaku adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Jalan menuju permurnian diri juga.
 Konsepsi tentang alam tampak dari keyakinan bahwa dunia berasal dari bumi segandu (bumi yang masih bulat) bernama Indramayu. Bumi segandu kemudian menimbulkan lahar menjadi daratan, kekayon, dan air. Setelah itu muncul alam gaib. yang mengendalikan semua itu adalah Nur Alam.
Ritual diawali dengan
a-sama. Salah satu ba
Ana kita ana sira,
wijile kita cukule sira
jumlae hana pira,
hana lima
Ana ne nin
Rohbana ya rohbana Rohbana ya rohbana
Robahna batin kita
Ning dunya saba
nerimana, uripana, warasana, cukulana, openana, bagusana”
Artinya : Ada (pada) saya ada (pada) kamu, lahirnya aku tumbuhnya kamu, jumlahnya ada berapa, Jumlahnya ada lima. Adanya di badan kita, Rohbana
Sungai tempat Kungkum Siang harinya, disaat sinar matahari sedang terik, berangsung mulai dari sekitar jam 9 hingga tengah hari. (supaya) bagus. Selesai melantunkan Kidung dan Pujian Alam, pemimpin kelomembeberkan cerita pewayangan tentang Kisah Pandawa Limreka, Semar. Usai paparan wayang, Pak Takmad membpetuah kepada para pengikutnya. Paparan wayang dan petuah lam. Usai itu, para lelaki menuju ke sungai yang terletak di belakang benteng padepokan. Di sungai dangkal itu mereka berendam dalamuncul hanya bagian mukanya saja. Mereka berendam hingga ini disebut kungkum.
Medar (menceritakan) cerita pewayangan, kungkum
Kegiatan secara masal hanya dilakukan pada setiap malam Jum’at Kliwon.
Ritual-ritual ini pada dasarnya adalah sebagai upaya mereka menyatukan diri dengan alam, serta cara mereka melatih kesabaran. Semua ini dilakukan tanpa ada paksaan.
Komunitas Suku Dayak Indramayu menjalankan ritual menyembah sang pencipta dan penguasa alam semesta dengan 2 cara, yaitu laku pepe dan laku kungkum. Laku Pepe adalah melakukan ritual dengan cara menjemur diri dibawah terik sinar matahari. Sedangkan laku kungkum pelaksanaan ritual dengan cara berendam di dalam air (sampai sebatas leher). Ritual ini dilakukan di dalam parit dekat padepokan mereka pada pukul 24.00 hingga pukul 06.00. Saat pelaksanaan ritual mereka juga menyanyikan kidung pujian seperti sebuah doa dalam bahasa jawa, yang dalam bahasa jawa sering disebut uro-uro.

3.7 Bahasa
Bahasa Jawa Indramayu merupakan bahasa yang digunakan sehari-hari oleh suku dayak Indramayu pada umumnya, baik dalam upacara adat maupun keagamaan.

3.8 Sistem Kesenian
Seni pada masyarkat suku dayak indramayu meliputi seni sastra, seni music, seni bangunan dan ukiran-ukiran.

3.8.1 Seni Sastra
Seni sastra di kalangan suku dayak indramayu meliputi sastra lisan. Pada masyarkat suku dayak Indramayu terkenal cerita pewayangan tentang Kisah Pandawa Limreka, Semar.

3.8.2 Seni Musik
Secara definitive, musik adaah suara yang dapat memuaskan perasaan dan menggembirakan isi jiwa (ekspresi). Di suku dayak Indaramayu, mereka juga mengenal kesenian music. Biasanya saat melakukan ritual laku kungkum mereka juga menyanyikan kidung pujian seperti sebuah doa dalam bahasa jawa, yang dalam bahasa jawa sering disebut uro-uro.

3.8.3 Seni Bangunan dan Ukir-ukiran
Tempat tinggal dan tempat peribadatan (ritual) masyarakat suku dayak Indramayu dibentengi dengan dinding yang cukup tinggi dan diberi ornamen lukisan-lukisan.

3.9 Sistem Mata Pencaharian
Komunitas Suku Dayak Indramayu tidak menyantap telur atau makanan yang berasal dari hewan. Mereka adalah vegetarian. Dalam prinsip mereka, hewan juga butuh untuk hidup. Dan lingkungan alam di sekitar mereka adalah lingkungan pertanian sawah dan palawija. Maka dari itu Kebanyakan anggota komunitas tersebut memiliki mata pencaharian sebagai petani dan buruh.

3.10 Sistem Pengetahuan
Pada umumnya pengetahuan yang dimiliki kelompok suku dayak Indramayu masih kurang, mereka hanya tahu bagaimana cara bertani karena mereka tidak mengenyam pendidikan sekolah.



3.11 Sistem Teknologi
Kelompok suku dayak Indramayu sebagian sudah mengenal teknologi modern seperti traktor untuk menggarap sawahnya.

3.12 Partisipasi Warga Kelompok Suku Dayak IndramayuDalam Bidang Pemerintahan, Sosial, Dan Politik
Selama perjalanan hidupnya, Takmad Diningrat, banyak mengalami penderitaan, kesengsaraan, dan kemiskinan. Ia pun merasa kecewa dengan sikap dan perilaku para pemimpin pemerintahan, para politisi dan pemimpin partai, serta para penganut agama yang menurut pandangannya sudah banyak menyimpang dari hukum formal maupun ajaran-ajaran agamanya. Ia berprinsip bahwa kebaikan dan kebenaran tidak bisa dipaksakan, melainkan datang dari diri sendiri masing-masing orang. Oleh sebab itu, ia dan para pengikutnya, tidak mau menjadi umat atau penganut dari salah satu agama besar yang ada di Indonesia. Di samping itu, mereka pun tidak mau mengikatkan diri dengan salah satu kelompok, golongan, maupun Partai Politik. Itu pula sebabnya, ketika negara ini tengah melangsungkan pesta demokrasi Pemilihan Umum, baik pemilu legislatif maupun pemilihan presiden, mereka memutuskan tidak ikut memilih partai, dan mereka lebih memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya.
Keengganan mereka untuk terikat dengan aturan-aturan formal, terbukti dari keengganan mereka membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP). Padahal kepemilikan KTP dan identitas kependudukan atau kewarganegara yang telah cukup umur. Salah satu penyebab keengganan warga kelopok ini untuk memenuhi hak sipil mereka adalah karena adanya keharusan mengisi kolom agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam format KTP, sementara mereka tidak mengikatkan diri pada salah satu agama maupun Organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal hubungan kemasyarakatan, mereka biasa bergaul dengan warga masyarakat sekitar walaupun sangat terbatas, karena penampilan keseharian mereka yang sangat berbeda dengan warga masyarakat lainnya. Warga masyarakat sekitar mereka dalam keseharian biasa mengenakan baju kemeja atau kaos oblong (nglambi), sedangkan warga Suku Dayak Indramayu tidak.





























BAB IV
PENUTUP


4.1  Kesimpulan
Dari hasil pengamatan sepintas, penulis dapat merumuskan beberapa kesimpulan mengenai komunitas suku Dayak Hindu – Budha ini antara lain :
1.      Suku Dayak Hindu – Budha Bumi Segandu Indramayu, adalah sebuah komunitas independen, yang tidak mengikatkan diri pada salah satu agama, organisasi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, maupun partai politik tertentu, maupun organisasi kemasyarakatan.
2.      Warga komunitas ini meyakini ajaran yang diajarkan oleh pimpinan mereka, Takmad Dinigrat, yang disebut dengan ajaran “Sajarah Alam Ngaji Rasa”. Inti ajaran ini adalah mencari kebenaran, melalui penyatuan diri dengan alam, pemuliaan terhadap lingkungan alam, pengabdian kepada keluarga, berperilaku jujur dan sabar.
3.      Istilah “Suku Dayak” yang mereka kenakan sebagai identitas kelompok ini, bukanlah “suku” dalam etnik (suku bangsa), melainkan sebuah istilah dalam bahasa Jawa Indramayu. Demikian pula kata “Dayak” bukan dalam arti suku bangsa Dayak, melainkan juga diambil dari kata dalam bahasa Jawa Indramayu, yang artinya menyaring/memilih.
4.      Pemimpin kelompok ini telah mengalami banyak kekecewaan hidup yang menimbulkan sikap apatis mereka terhadap aturan-aturan formal pemerintah, maupun hak-hak sipil mereka. Sikap ini kemudian diikuti oleh para pengikutnya.
Dalam pengamatan penulis, kelompok ini cenderung lebih mengarah pada suatu kelompok aliran kepercayaan, ketimbang kelompok suku bangsa sebagaimana mereka mengidentifikasikan dirinya sebagai suku Dayak Hindu – Budha. Kesatuan dan kebersamaan mereka lebih didasari oleh adanya keyakinan bersama akan kebenaran ajaran yang diberikan oleh pemimpin mereka kepada warganya.
Implikasi dari sering adanya bantuan dari luar yang diterima oleh kelompok ini, baik dari perorangan maupun kelembagaan, telah menimbulkan kekhawatiran pada pihak Pemerintah Daerah setempat, antara lain :
·         dikhawatirkan oleh Pemerintah Daerah Setempat akan menimbulkan kecemburuan sosial dari warga masyarakat di sekitarnya.
·         Semakin banyak warga masyarakat di sekitarnya yang tertarik dengan ajaran-ajaran mereka, terlebih dengan banyaknya bantuan dari pihak luar,  sehingga menarik warga masyarakat di sekitarnya untuk bergabung dengan komunitas ini. Padahal komunitas ini belum mendapat pengakuan dari Pemerintah Daerah Setempat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar